Pesantren Bukan Segalanya, Tapi Bisa jadi Solusi Terbaik

Nginap dalam menuntut ilmu itu Sunnahnya para salaf, yang dengan bahasa kekiniannya disebut dengan pesantren atau Ma'had.

Jejak tradisi ini sudah mulai tumbuh sejak zaman Nabi shalallahu alaihi wasallam.

عَنْ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ قَالَ: أَتَيْنَا النَّبِيَّ ﷺ وَنَحْنُ شَبَبَةٌ مُتَقَارِبُونَ، فَأَقَمْنَا عِنْدَهُ عِشْرِينَ لَيْلَةً، فَظَنَّ أَنَّا اشْتَقْنَا أَهْلَنَا، فَسَأَلَنَا عَمَّنْ تَرَكْنَا مِنْ أَهْلِنَا، فَأَخْبَرْنَاهُ، وَكَانَ رَقِيقًا رَحِيمًا، فَقَالَ: "ارْجِعُوا إِلَى أَهْلِيكُمْ، فَعَلِّمُوهُمْ وَمُرُوهُمْ"
رواه البخاري 628 ومسلم 674

Dari Malik bin Huwairits ia berkata: "Kami mendatangi Nabi ﷺ dan kami adalah para pemuda yang seusia. Kami tinggal bersama beliau selama 20 malam. Beliau mengira kami rindu keluarga, lalu beliau bertanya tentang keluarga yang kami tinggalkan. Kami pun mengabarinya. Beliau adalah orang yang lembut dan penyayang. Lalu beliau bersabda: "Pulanglah kepada keluargamu, ajarkanlah mereka dan perintahkanlah mereka". (H.R. Bukhari/628, Muslim/674).

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَرَأَيْتَ رَجُلًا غَزَا يَلْتَمِسُ الأَجْرَ وَالذِّكْرَ، مَا لَهُ؟ قَالَ: "لَا شَيْءَ لَهُ" فَأَعَادَهَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، وَيَقُولُ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: "لَا شَيْءَ لَهُ" ثُمَّ قَالَ: "إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُ"

Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Seorang laki-laki dari Anshar datang kepada Nabi ﷺ lalu bertanya: 'Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang berperang untuk mencari pahala dan nama baik, apa yang ia dapat?' Beliau menjawab: 'Ia tidak mendapatkan apa-apa'. Ia mengulangi pertanyaan itu 3 kali, dan Rasulullah ﷺ tetap menjawab: 'Ia tidak mendapatkan apa-apa'. Kemudian beliau bersabda: 'Sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali yang ikhlas karena-Nya dan mengharap wajah-Nya'." (HR. An-Nasa'i no. 3134).

Pesantren adalah wadah pendidikan yang membentuk karakter dan kepribadian yang mandiri, punya solidaritas tinggi, kepedulian terhadap lingkungan, memiliki problem solving yang mapan, serta semangat juang yang tinggi.

Di pesantren seorang anak didik akan mendapatkan arti dalam mendidik diri sendiri melalui program kemandirian, seperti cuci baju sendiri, memasak, membersihkan ruang tempat tidur. Ini tidak didapatkan secara intens dan berkelanjutan kecuali dilingkungan pesantren.

Kemudian, santri akan mendapatkan asupan mengenai arti persaudaraan dan rasa empati terhadap sesama melalui pergaulan yang baik, pengalaman yang dilewati secara bersama-sama.

Banyak hal-hal yang baru yang ditemukan oleh anak di lingkungan pesantren yang mungkin tidak ditemukan dalam ruang lingkup yang bersifat terbuka dan bebas.

Sehingga hal-hal baru itu mengajarkan seorang anak tentang arti problem solving untuk kemudian ia terapkan dalam menghadapi berbagai tantangan di luar lingkungan pesantren setelah ia menyelesaikan pendidikannya.

Pesantren memang bukanlah satu-satunya wadah mencakup semua aspek pendidikan yang holistik, banyak kekurangan yang mesti di benahi, dan banyak aspek -aspek kehidupan yang lebih luas tidak tersentuh oleh pengalaman di pesantren.

Namun, dari sekian persoalan umat yang pelik tengah di hadapi oleh manusia, masalah krisis tauhid, Akhlak dan moral menjadi hal yang paling krusial untuk dijaga dalam lingkungan pesantren. Sehingga, tepatnya pesantren masih menjadi salah satu wadah paling signifikan untuk terus menjaga moral dan akhlak anak-anak dari sentuhan pergaulan bebas, narkoba, pornografi, dan serta krisis tauhid.

Allahu 'alam.

Newsletter

Get latest news & update